Jumat, 22 Juli 2011

Ayahku (Bukan) Pembohong karangan Tere-Liye

ni novel baru tadi sore saya beli di toko buku gramed. walaupun terhampar buku yang sekarang lagi ngetop di kalangan abg sampai-sampai ada temen yang pesen jauh-jauh hari, ni buku berhasil menarik perhatian. walaupun awalnya temen yang nunjukin dan saya nolak karena alasan novel karangan Tere-Liye biasanya bikin mewek akhirnya dibeli juga.. :)  karena ceritanya bagus, saya buat sedikit resensinya ya..

ni nih bukunya :)

Cerita bermula dari tokoh Dam seorang anak yang sangat senang mendengar cerita-cerita ayahnya tentang perjalanan hidupnya  yang terdengar seperti dongeng sewaktu Dam masih kecil. Dam sekeluarga hidup sederhana tapi seluruh kota tempat Dam tinggal sangat menghormati dan mengagumi keluarga Dam. Ayah Dam adalah lulusan magister hukum luar negeri dan  terkenal sangat jujur dan sederhana di kotanya.

Seiring dengan bertambahnya usia, Dam mulai menyadari bahwa cerita ayahnya itu terdengar tidak masuk akal. Dimulai cerita Ayah Dam tentang pemain sepak bola Sang Kapten, pemain sepak bola terkenal waktu Dam kecil, yang merupakan teman ayahnya waktu kuliah di luar negeri. Cerita mrnakjubkan tentang Apel Emas Lembah Bukhara. Atau yang tidak kalah seru lagi cerita tentang Suku Penguasa Angin yang memiliki layang-layang raksasa. Tentang guru  dan sahabat Ayah Dam, Si Raja tidur, yang  menguasai ilmu kedokteran dan hukum. 

Setiap kali Dam menanyakan kebenaran cerita ayahnya, Ayah Dam hanya berkata bahwa cerita-cerita ayahnya nyata tanpa memberikan alasan yang pasti.
Dam mulai ragu dengan cerita ayahnya dan bingung mengapa ayahnya berbohong padanya padahal Ayah Dam terkenal sangat jujur dan sederhana, tidak pernah ada kata dusta keluar dari mulutnya.
Sampai akhirnya ibu Dam sakit keras dan Dam harus kembali  dari sekolah Akademi Gajah  (setingkat SMA) untuk menemui ibunya. Dam yang sedih sangat kecewa dengan Ayahnya yang masih saja bercerita tentang kesimpulan Si Raja Tidur tentang penyakit Ibu Dam. Kepergian Ibu Dam membuat Dam sangat sedih dan sangat kecewa dengan ayahnya dan menganggap ayahnya seorang pembohong.

Dam memutuskan meninggalkan rumah ketika melanjutkan ke jenjang perkuliahan dan mulai jarang bertemu ayahnya. Dam bertemu dengan Taani, teman masa kecilnya, yang  menjadi istrinya. Taani sangat menghormati Ayah Dam dan menganggap cerita Ayah Dam adalah sesuatu yang hebat. Dan akhirnya Dam dikaruniani 2 orang anak yang lucu Zas dan Qon. Ayah Dam sangat menyayangi cucunya. 
Meskipun pada awalnya Ayah Dam menolak tinggal di rumah Dam, ia akhirnya mau tinggal di rumah Dam karena cucunya. Maka mulainya Ayah Dam bercerita tentang hal yang sama seperti yang diceritakan kepada Dam. Seperti anak kecil pada umumnya cucunya sangat antusias mendengar cerita ayah Dam apalagi Dam tidak pernah bercerita pada mereka.
Dam kurang menyukai ayahnya bercerita karena ia tahu bahwa cerita ayahnya itu bohong. Walau hampir seluruh cerita Ayah Dam mengandung nilai budi pekerti dan menginspirasi hidup Dam.Dam sangat marah  saat tahu  Zas dan Qon yang mulai membolos sekolah untuk pergi ke perpustakaan kota hanya untuk mengetahui kebenaran cerita kakeknya. Dia sangat marah pada ayahnya dan mengutarakan keinginan agar ayahnya segera pindah dari rumah.
Ayahnya pergi dari rumah Dam dan kembali ke rumah lamanya walaupun istri Dam memohon untuk tetap tinggal. Sesaat setelah ayahnya pergi Dam perlahan mulai menemukan kebenaran dari seluruh cerita Ayahnya. Dam sangat menyesali keputusannya dan berencana merundingkannya dengan istrinya.

Tapi, tak ada hari esok, Ayah Dam yang uzur jatuh sakit dan sakitnya bertambah parah. Sebelum Ayah Dam meninggal ( hiks.hiks.) Ayah Dam bercerita tentang Kolam Para Sufi, cerita terakhirnya. 
Pemakaman Ayah Dam dihadiri oleh banyak orang yang dikenal maupun tidak dikenal Dam. Juga dirinigi sembilan formasi layang-layng besar dari Suku Penguasa Angin, dan tanpa diduga hadir pula Sang Kapten idola Dam waktu kecil yang juga teman ayahnya beserta keponakannya  Si Nomor Sepuluh, idola  Zas dan Qon. Siapa sangka seluruh cerita Ayah Dam benar adanya. Dam akhirnya menyadari bahwa Ayah Bukan Pembohong.

Secara keseluruhan menurut saya novel ini sangat bagus. Saya sangat terharu dan kembali meyakini pentingnya kehadiran keluarga. Mengingatkan saya kapan terakhir kali saya memeluk ayah, menatap wajahnya, berkata bahwa kita sangat sayang dan bangga padanya.atau kapan terkahir kali kita bercanda dan bercerita bersamanya dan menyentuh lembut tangannya.. Pokoknya oke deh!! Must Read!! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar